PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI SECARA OUTSOURCING INSOURCING DAN COSOURCING

PENDAHULUAN

Persaingan dalam dunia usaha yang semakin tajam, memaksa perusahaan-perusahaan untuk berkonsentrasi pada rangkaian proses atau aktivitas penciptaan produk dan jasa yang terkait dengan kompetensi utamanya (core competence), dengan melakukan proses tersebut, akan dapat dihasilkan sejumlah produk dan jasa yang berkualitas unggul dan berdaya saing. Konsekuensi dari strategi tersebut, mendorong pimpinan (manajemen) untuk mengalih dayakan atau menyerahkan proses-proses yang bukan merupakan core competence perusahaan tersebut ke pihak lain. Proses ini disebut outsourcing, dengan outsourcing daya saing perusahaan yang bersangkutan dapat ditingkatkan dan dilipatgandakan.

Aktivitas yang dikenal dengan istilah outsourcing ini telah menggenjala diseluruh dunia dan terbukti dapat meningkatkan daya saing usaha secara signifikan. Agar manajemen serta praktisi bisnis yang terkait langsung dengan aktivitas outsourcing dapat merencanakan, mengeksekusi dan mengawasi proses ini secara efektif, yang bersangkutan perlu untuk memahami dan sungguh-sungguh dan mendalam berbagai hal terkait dengan konsep manajemen outsourcing.

DEFINISI OUTSOURCING

Menurut O’Brien dan Marakas (2010) dalam bukunya “Introduction to Information Systems”, istilah outsourcing dalam arti luas adalah pembelian sejumlah barang atau jasa yang semula dapat dipenuhi oleh internal perusahaan tetapi sekarang dengan memanfaatkan mitra perusahaan sebagai pihak ketiga. Dalam kaitannya dengan TI, outsorcing digunakan untuk menjangkau fungsi TI secara luas dengan mengontrak penyedia layangan eksternal.

Maurice F. Greaver II memberikan definisi outsourcing sebagai berikut: “Outsourcing is the act of transferring some of a company`s recurring internal activities and decisiton rights to outside provider, as set forth in a contract. Because the activities are recurring and a contract is used, outsourcing goes beyond the use of consultants. As a matter of practice, not omly are the activities transferred, but the factors of production and decision rights often are, too. Factors of production are the resources that make the activities occur and include people, facilities, equipment, technology, and other assets. Decision rights are the respontsibilities for making decisions over certain elements of the activities transferred.

Definisi outsourcing adalah pendelegasian operasi dan manajemen operasi dan manajemen harian dari suatu proses bisnis kepada pihak luar (pihak perusahaan outsourcing). Adapun definisi yang lain adalah penyerahan aktivitas perusahaan pada pihak ketiga dengan tujuan untuk mendapatkan kinerja pekerjaan yang professional dan berkelas dunia. Adapun hal-hal yang didelegasikan dalam outsourcing adalah suatu fungsi dan proses bisnis tertentu untuk disisipkan dalam operasional bisnis perusahaan secara keseluruhan outsourcing mempengaruhi suatu organisasi secara keseluruhan dalam hal bentuk organisasi, pekerja, cara operasional, serta cara pengukuran, (Indtajit  dan Djokopranoto, 2003)

ALASAN PERUSAHAAN MEMILIH STRATEGI  OUTSOURCING

Menurut Indtajit  dan Djokopranoto (2003), beberapa alasan perusahaan untuk memilih strategi  outsourcing sebagai  alternatif dalam mengembangkan Sistem Informasi Sumberdaya Informasi diantaranya:

  1. Meningkatkan focus perusahaan
  2. Memanfaatkan kemampuan kelas dunia
  3. Mempercepat keuntungan yang diperoleh dari reengineering
  4. Membagi resiko
  5. Sumberdaya sendiri dapat digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan lain
  6. Memungkinkan tersedianya dana capital
  7. Menciptakan dana segar
  8. Mengurangi dan mengendalikan biaya operational
  9. Memperoleh sumber daya yang tidak dimiliki sendiri
  10. Memecahkan masalah yang sulit dikendalikan atau dikelola

Beberapa pertimbangan yang mungkin dapat digunakan untuk membantu proses pengambilan keputusan apakah outsoursing atau tidah adalah dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  1. Bagaimana kinerja standar untuk industry tertentu telah berubah dalam arti mutu, kecepatan, dan tingkat pelayanan?
  2. Bagaimana benchmarking kinerja dari perusahaan skala dunia?
  3. Bagaimana hasil kinerja perusahaan sendiri?
  4. Berapa biaya aktivitas yang dilakukan sendiri tersebut?
  5. Berapa biaya apabila aktivitas yang dimaksud di-outsourcing-kan?
  6. Apakah kinerja sendiri dapat diperbaiki secara berarti dengan menggacu pada benchmark tanpa melakukan outsourcing?
  7. Apakah volume pekerjaan cukup untuk mengembangkan perbaikan secara radikal dengan cukup ekonomis?
  8. Apakah perusahaan mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan dan perbaikan secara radikal yang akan mendekati pada benchmark?
  9. Untuk kegiatan yang sama, apakah perusahaan competitor melakukan outsourching?

AKTIVITAS yang DAPAT DI-OUTSOURCINGKAN

Biasanya aktivitas yang dapat di-outsourcingkan adalah aktivitas penunjang, atau bukan aktivitas bisnis utama perusahaan, sedangkan bisnis utama tetap dilaksanakan sendiri. Bagaimana menentukan aktivitas tersebut termasuk dalam core atau non core business seringkali memang sulit untuk membedakannya, namun dapat dibantu dengan menjawab pertanyaaan pokok ini: “Apakah hasil hasil utama dari perusahaan?, maka proses utama terakhir yang menghasilkan hasil utama tersebut dapat disebut sebagai core business.

Namun, memang ketentuan bahwa yang layak dilakukan sendiri adalah bisnis utama dan yang layak di-outsoursingkan adalah bukan bisnis utama bukanlah suatu yang disarankan, tetapi kebiasaan yang banyak dilakukan oleh perusahaan adalah berdasarkan penelitian dan studi, mana yang menguntungkan perusahaan. Ada beberapa perusahaan yang memandang bahwa diantara bukan bisnis utama, ada beberapa yangyang perlu dilakukan sendiri karena berbagai sebab, antara lain: dari segi keamanan, dipandang lebih aman jika tetap dilakukan sendiri, atau belum ada pihak ketiga yang mampu melakukan kegiatan tersebut secara lebih baik atau lebih professional.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEBERHASILAN OUTSOURCING

Menurut Indrajit dan Djokopranoto, 2003, faktor yang menyebabkan keberhasilan langkah outsourcing, yaitu:

  1. Memahami maksud dan tujuan perusahaan
  2. Memiliki misi dan perencanaan strategis
  3. Memilih secara tepat service provider atau pemberi jasa
  4. Melakukan pengawasan dan pengelolaan terus menerus terhadap hubungan antar perusahaan dan pemberi jasa
  5. Memiliki kontrak yang cukup tersusun dengan baik
  6. Memelihara lingkungan baik dan terbuka dengan individu dan kelompok terkait
  7. Mendapat dukungan dan keikutsertaan manajemen
  8. Member perhatian secara berhati-hati pada persoalan yang menyangkut karyawan.
  9. Memiliki justifikasi ekonomi dan keuangan yang layak
  10. Menggunakan tenaga berpengalaman dari luar

LANGKAH PELAKSANAAN OUTSOURCING

Apa yang perlu dilakukan dan langkah apa yang selanjutnya perlu dikerjakan agar outsourcing dapat berjalan dengan lancar serta berhasil. Maurice E. Greaver II menyediakan 7 langkah pokok yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Perencanaan outsourcing
  2. Pemilihan strategi
  3. Analisis biaya
  4. Pemilihan pemberian jasa
  5. Tahap negosiasi
  6. Transisi sumber daya
  7. Pengelolaan hubungan

Langkah-langkah ini dilakukan sesudah ada keputusan untuk melakukan outsourcing. Langkah-langkah ini tentu saja bukan ketentuan yang mutlak harus dilakukan, tapi sekedar pedoman yang dapat dilakukan secara kurang lebih berurutan. Dalam pelaksanaannya tentu saja perlu disesuaikan dengan kondisi dan jenis perusahaan yang akan melakukan outsourcing tersebut. Tidak hanya itu karena dalam banyak hal, langkah-langlkah tersebut perlu dilakukan secara paralel atau bersama.

TIPE-TIPE OUTSOURCING

Dalam pengertian yang luas, outsourcing sekedar diartikan sebagai penyerahan atau pengontrakan aktivitas perusahaan pada pihak ketiga, dimana ada beberapa tipe yang dapat dikenal, antara lain: a. contracting, b. outsourcing, c. insourcing, d. co-sourcing, e. benefit-based-relationship.

Contracting

Contracting merupakan bentuk penyerahan aktivitas perusahaan pada pihak ketiga yang paling sedehana dan merupakan bentuk yang paling lama. Biasanya ini menyangkut kegiatan sederhana atau jenis layanan tingkat rendah, seperti pembersihan kantor, pemeliharaan rumput, dan kebun. Langkah ini adalah langkah berjangka pendek, hanya mempunyai arti taktis. Langkah ini juga bukan merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengambil posisi dalam pasar misalnya, tetapi sekedar mencari cara yang praktis saja. Praktis alam arti menghindari kesulitan dan keruetan yang tidak perlu dan juga menghemat tenaga serta biaya. Oleh karena sifat pekerjan yang sangat sederhana maka pemilihan pemberi jasa bukan merupakan masalah serius, sebab praktis hampir semua orang atau perusahaan dengan latihan sebentar dapat melakukan pekerjaan itu. Dari segi biaya, mungkin bukan bagian yang besar dari seluruh biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan.

Outsourcing

Outsourcing merupakan penyerahan aktivitas perusahaan pada pihak ketiga dengan tujuan untuk mendapatkan kinerja pekerjaan yang professional dan berkelas dunia. Oleh karena itu, pemilihan pemberi jasa merupakan hal yang sangat vital. Diperlukan pembrian jasa yang menspesialisasikan dirinya pada jenis pekerjaan atau aktivitas yang akan diserahkan. Dengan demikian, diharapkan bahwa kompetensi utamanya juga berada dijenis pekerjaan tersebut. Disertai pengendalian yang tepat, pemberi jasa diharapkan mampu member kontribusi dalam meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan. Oleh karena itu, outsourcing merupakan langkah strategis bagi perusahaan dalam arti mempunyai kontribusi dalam menentukan hidup matinya dan berkembang tidaknya perusahaan.

Insourcing

Insourcing merupakan kebalikan dari outsourcing, dimana perusahaan bukan menyerahkan aktivitas pada perusahaan lain yang dianggap lebih kompeten, namun justru mengambil atau menerima pekerjaan dari perusahaan lain dengan berbagai motivasi. Salah satu motivasi yang penting adalah menjaga tingkat produktivitas dan penggunaan aset yang maksimal agar biaya satuan dapat ditekan sehingga menjaga dan meningkatkan keuntungan perusahaan. Dengan demikian, kompetensi utama perusahaa tidak hanya digunakan oleh perusahaan sendiri tetapi dapat digunakan perusahaan lain dengan imbalan tertentu. Hal ini sangat penting, misalnya apabila kapasitas produksi tidak digunakan secara penuh, ada kapasitas yang menganggur.

Co-Sourcing

Co-sourcing merupakan jenis hubungan pekerjaan dan aktivitas, dimana hubungan perusahaan dan rekanan lebih erat dari sekedar hubungan outsourcing biasa. Ini misalnya terjadi dalam hal staf spesialis perusahaan diperbentukan kepada rekanan pemebri jasa karena langkanya keahlian yang diperlukan atau karena perusahaan tidak mau kehilangan spesialis tersebut. Melalui cara ini, keberhasilan pekerjaan seakan-akan menjadi tanggungjawab bersama, termasuk juga resiko ketidak berhasilan.

Benefit-based-relationship

Benefit-based-relationship merupakan hubungan outsourcing dimana sejak semula kedua belah pihak mengadakan investasi bersama, dengan pembagian pekerjaan tertentu. Dengan demikian kedua belah pihak betul-betul saling mendukung dan sebaliknya juga saling tergantung. Kedua belah pihak mendapat pembagian keuntungan berdasarkna formula yang disetujui bersama. Kedua bentuk terakhir ini, yaitu co-sourcing dan benefit-based-relationship adalah bentuk-bentuk yang baru. Oleh karena itu, masih dalam tahap percobaan dan pengembangan.

BEBERAPA PERBEDAAN POKOK

Tipe Outsourcing Keunggulan/Keuntungan Kelemahan
Outsourcing
  1. Biaya menjadi lebih murah karena perusahaan tidak perlu membangun sendiri fasilitas SI dan TI.
  2. Memiliki akses ke jaringan para ahli dan profesional dalam bidang SI/TI.
  3. Perusahaan dapat mengkonsentrasikan diri dalam menjalankan danmengembangkan bisnis intinya, karena bisnis non-inti telah didelegasikan pengerjaannya melalui outsourcing.
  4. Dapat mengeksploitasi skill dan kepandaian dari perusahaan outsource dalam mengembangkan produk yang diinginkan perusahaan.
  5. Mempersingkat waktu proses karena beberapa outsourcer dapat dipilih sekaligus untuk saling bekerja sama menyediakan layanan yang dibutuhkan perusahaan.
  6. Fleksibel dalam merespon perubahan SI yang cepat sehingga perubahan arsitektur SI berikut sumberdayanya lebih mudah dilakukan karena perusahaan outsource SI pasti memiliki pekerja TI yang kompeten dan memiliki skill yang tinggi, serta penerapan teknologi terbaru dapat menjadi competitive advantage bagi perusahaan outsource.
  7. Meningkatkan fleksibilitas untuk melakukan atau tidak melakukan investasi.
  8. Kehilangan kendali terhadap SI dan data karena bisa saja pihak outsourcer menjual data dan informasi perusahaan ke pesaing.
  9. Adanya perbedaan kompensasi dan manfaat antara tenaga kerja internal dengan tenaga kerja outsourcing.
  10. Mengurangi keunggulan kompetitif perusahaan karena pihak outsourcer tidak dapat diharapkan untuk menyediakan semua kebutuhan perusahaan karena harus memikirkan klien lainnya juga.
  11. Jika menandatangani kontrak outsourcing yang berjangka lebih dari 3 tahun, maka dapat mengurangi fleksibilitas seandainya kebutuhan bisnis berubah atau perkembangan teknologi yang menciptakan peluang baru dan adanya penurunan harga, maka perusahaan harus merundingkan kembali kontraknya dengan pihak outsourcer.
  12. Ketergantungan dengan perusahaan pengembang SI akan terbentuk
  1. Kehilangan kendali terhadap SI dan data karena bisa saja pihak outsourcer menjual data dan informasi perusahaan ke pesaing.
  2. Adanya perbedaan kompensasi dan manfaat antara tenaga kerja internal dengan tenaga kerja outsourcing.
  3. Mengurangi keunggulan kompetitif perusahaan karena pihak outsourcer tidak dapat diharapkan untuk menyediakan semua kebutuhan perusahaan karena harus memikirkan klien lainnya juga.
  4. Jika menandatangani kontrak outsourcing yang berjangka lebih dari 3 tahun, maka dapat mengurangi fleksibilitas seandainya kebutuhan bisnis berubah atau perkembangan teknologi yang menciptakan peluang baru dan adanya penurunan harga, maka perusahaan harus merundingkan kembali kontraknya dengan pihak outsourcer.
  5. Ketergantungan dengan perusahaan pengembang SI akan terbentuk
In-Sourcing
  1. Perusahaan memiliki kendali yang besar terhadap SI/TI-nya sendiri.
  2. Mengurangi biaya tenaga kerja karena biaya untuk pekerja dalam perusahaan biasanya lebih kecil daripada biaya yang dikeluarkan untuk pekerja outsource.
  3. Menyalurkan pemanfaatan kompetensi perusahaan secara optimal.
  4. Memiliki kemampuan untuk melihat keseluruhan proses pengembangan SI.
  5. Sistem Informasi yang dibuat dapat direncanakan secara terstruktur sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
  6. Mudah untuk melakukan modifikasi dan pemeliharaan (maintenance) terhadap SI karena proses pengembangannya dilakukan oleh internal perusahaan tersebut.
  7. Lebih mudah dalam mengintegrasikan SI yang dikembangkan oleh perusahaan dengan sistem yang sudah ada.
  8. Proses pengembangan sistem dapat dikelola dan dimodifikasi serta dikontrol keamanan aksesnya (security acces).
  9. Dapat dijadikan sebagai keunggulan kompetitif (competitif advantage)

perusahaan dibandingkan pesaing.

  1. Membutuhkan investasi yang tinggi karena biaya pembuatan system harganya sangat mahal.
  2. Pengembangan SI dapat memakan waktu yang lama karena harus merancangnya dari awal.
  3. Adanya communication gap antara IT Specialist dan user.
  4. Kesulitan dalam menyatakan kebutuhan users sehingga menyulitkan spesialis TI dalam memahaminya dan seringkali hal ini menyebabkan SI yang dibuat kurang memenuhi kebutuhan user.
  5. Adanya resiko yang harus ditanggung sendiri oleh perusahaan jika terjadi masalah atau kesalahan dalam pendefinisian kebutuhan data dan informasi.
  6. Kurangnya tenaga ahli (expert) di bidang SI/TI yang kompeten dan memiliki skill yang memadai dapat menyebabkan kesalahan/resiko yang harus ditanggung sendiri oleh perusahaan.
  7. Perusahaan belum tentu mampu melakukan adaptasi dengan perkembangan TI yang sangat pesat sehingga ada peluang teknologi yang digunakan kurang up to date.
Co-sourcing
  1. Sistem yang dibangun relatif sesuai dengan kebutuhan karena perencanaan pengembangan yang lebih kompetitif.
  2. Permasalahan yang timbul menjadi tanggug jawab kedua belah pihak (risk sharing) dan penyelesaiannya dapat didiskusikan bersama.
  3. Adanya sharing knowledge antara karyawan perusahaan tersebut dengan wakil dari vendor. Hal ini dapat menyempurnakan sistem informasi yang dikembangkan dimana karyawan perusahaan menguasai kebutuhan sistem dalam perusahaan, sedangkan vendor menguasai bidang teknologi informasi.
  4. Teknologi yang akan dikembangkan dapat dinegosiasikan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan perusahaan.
  5. Biaya pengembangan sistem informasi relatif murah karena terdapat sharing cost yang ditanggung bersama oleh perusahaan dan vendor.
  1. Terdapat kekhawatiran tentang keamanan sistem informasi karena adanya peluang penyalahgunaan sistem informasi oleh vendor, misalnya pembajakan atau pembocoran informasi perusahaan.
  2. Perbedaan kepentingan organisasi sehingga dapat terjadi konflik kepentingan antara perusahaan dan vendor.
  3. Relatif sulit melakukan perbaikan dan pengembangan sistem informasi karena pengembangan perangkat lunak dilakukan oleh vendor, sedangkan perusahaan umumnya hanya terlibat sampai rancangan kebutuhan sistem.
  4. Perusahaan harus menyesuaikan dengan komponen teknologi yang dimiliki oleh vendor, yang umumnya lebih canggih.

KESIMPULAN

Dalam menentukan strategi mana yang akan digunakan dalam suatu perusahaan, sangat tergantung dari situasi yang ada. Tentu saja dengan mempertimbangkan pula keunggulan dan kelemahan serta manfaat dan resiko yang mungkin dialami oleh perusahaan. Misalnya: outsourcing dapat dijadikan pilihan jika dibutuhkan waktu yang cepat dalam pengembangan aplikasi atau jika perusahaan memiliki sejumlah proses bisnis non-inti yang memerlukan banyak waktu, usaha, dan sumberdaya untuk dilaksanakan.

Outsourcing dalam hal ini, akan membantu menghemat waktu, usaha, tenaga kerja dan juga akan membantu pengiriman yang lebih cepat untuk pelanggan perusahaan. Sebaliknya, insourcing lebih tepat untuk dipilih jika suatu aplikasi merupakan inti bisnis perusahaan atau jika telah ada suatu divisi khusus dalam perusahaan yang ahli dalam suatu bidang tertentu. Hal ini akan dapat menghemat biaya dan perusahaan memiliki kontrol yang lebih baik atas pekerjaan yang dilakukan.

Perusahaan tidak harus memilih outsourcing, insourcing atau cosourcing atau sebaliknya. Suatu perusahaan dapat melakukan semua strategi pada saat yang sama. Dengan melakukan secara bersamaan, maka perusahaan akan dapat memiliki apa yang terbaik dari yang ditawarkan kedua strategi di atas dan bisnis akan mendapatkan keuntungan kompetitif.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Membandingkan Pengembangan Sistem Informasi Secara Outsourcing dan Insourcing. http://www.scribd.com/doc/39417324/

Indrajit, Richardus Eko dan Richardus Djokopranoto. 2003. Proses Bisnis Outsourcing. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

Maurice F. Greaves II. 1999. Strategic Outsourcing, a Struktured Approach to Outsourcing Decisions and Initiatives. USA: Amerika Management Association.

O’Brien, J. A. and G. M. Marakas. 2010. Introduction to Information Systems, fifteenth edition. The McGraw-Hill Companies, Inc.

LAMPIRAN

1. http://www.tech-id.co.cc/2010/05/pendekatan-pengembangan-sistem.html

Pendekatan pengembangan system informasi

Ada banyak cara dalam lakukan pendekatan terhadap Pengembangan Sistem Informasi, seperti Insourcing (SDLC), Prototyping, Pemakaian Paket Perangkat Lunak, Selfsourcing dan Outsourcing.

Insourcing

1. Fitur

  • Proses Formal dilakukan tahap demi tahap secara berurutan
  • Spesifikasi dan persetujuan dalam bentuk tertulis
  • Peran pemakaian terbatas

2. Kelebihan

  • Perlu untuk sistem dan proyek yang kompleks

3. Kelemahan

  • Pelan dan Mahal
  • Perubahan tidak dapat dilakukan dengan cepat
  • Banyak kertas yang perlu dikelola

Prototyping
1. Fitur

  • Kebutuhan ditentukan secara dinamis melalui sistem percobaan
  • Proses cepat, tidak formal dan berulang
  • Pemakaian secara terus-menerus berinteraksi dengan prototipe

2. Kelebihan

  • Cepat dan tak mahal
  • Berguna manakala kebutuhan-kebutuhan tak menentu dan jika antarmuka pemakai-akhir merupakan hal yang penting
  • Meningkatkan partisipasi pemakai

3. Kelemahan

  • Tak cocok untuk sistem yang kompleks dan besar

Paket Perangkat Lunak
1. Fitur

  • Perangkat lunak komersial mengurangi kebutuhan internal untuk mengembangkan program

2. Kelebihan

  • Menurangi kerja untuk perancangan, pemprograman, installasi dan pemeliharaan
  • Dapat menghemat waktu dan biaya jika yang dikembangkan adalah aplikasi bisnis yang umum
  • Mengurangi kebutuhan sumber daya internal bidang sistem informasi

3. Kekurangan

  • Kemungkinan tidak cocok dengan kebutuhan organisasi yang bersifat unik
  • Kemungkinan tidak dapat melakukan beberapa fungsi bisnis dengan baik
  • Pencocokan dengan kebutuhan menaikan biaya pengembangan

Selfsoucing
1 Fitur

  • Sistem dibuat oleh pemakai-akhir dengan menggunakan perangkat lunak generasi keempat
  • Cepat dan tidak formal
  • Peran spesialis sistem informasi sangat sedikit

2. Kelebihan

  • Pemakai mengendalikan pembuatan sistem
  • Menghemat waktu dan biaya pengembangan
  • Mengurangi ketertiggalan aplikasi yang dikehendaki

3. Kekurangan

  • Dapat membuat sistem informasi berkembang biak tanpa dapat dikendalikan
  • Sistem tidak selalu memenuhi dengan standar jaminan mutu

Oursourcing
1. Fitur

  • Sistem dibuat dan seringkali dioperasikan oleh pihak luar

2. Kelebihan

  • Dapat mengurangi atau mengenalikan biaya
  • Dapat menghasilkan sistem sekalipun sumber daya internal tidak tersedia atau secara teknis kurang

3. Kekurangan

  • Kehilangan kontrol terhadap fungsi sistem informasi
  • Tergantung sekali pada vendor

Comment

2. http://www.ekurniawan.net/artikel-it/pentingnya-outsourcing-bidang-teknologi-informasi-8.html

Comment

3. http://www.biskom.web.id/2008/07/22/outsourcing-solusi-sistem-informasi-masa-depan.bwi/comment-page-2#comment-1754

Comment

Kelebihan dari metode ini diantaranya kualitas yang diberikan outsoucer lebih tinggi, mengurangi resiko investasi yang mahal, dan dengan menggunakan metode ini perusahaan bisa lebih fokus pada masalah core dalam perusahaan. Selain itu metode ini mempunyai kelemahan. Masalah yang paling penting ketika menggunakan metode ini yaitu masalah keamanan sehingga harus dibicarakan secara jelas antara pihak pengembang dengan perusahaan. Aspek yang perlu dipertimbangkan sebelum menerapkan metode ini yaitu ruang lingkup, budget, resiko, tingkat kegunaan, dan sejauh mana perusahaan memerlukannya.

4. http://www.setiabudi.name/archives/1141/comment-page-2

Commant

Setiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hendaknya sebelum memilih salah satu metode dalam pengembangan sistem informasi, perusahaan terlebih dahulu melihat dari segi ruang lingkup, budget, resiko, tingkat kegunaan, dan sejauh mana perusahaan memerlukannya. Metode oursourcing sangat cocok digunakan jiak mempunyai ruang lingkup yang besar sehingga dengan menerapakan metode ini akan menghemat biaya dan waktu dalam pengembangan sistem. Namun, dalam hal menyangku core kegiatan perusahaan metode ini tidak cocok lagi untuk digunakan.Hal yang paling penting diperhatikan ketika menerapkan metode outsourcing ini yaitu perjanjian kerjasama antara vendor dan perusahaan untuk menjamin kualitas dan kinerja sesuai dengan yang diharapkan perusahaan.

5. http://www.topreference.co.tv/2010/02/penguasaan-it-dan implementasinya.html#comment-form

Commant

Salah satu kelebihan dari metode outsourcing yaitu perusahaan tidak perlu lagi melakukan investasi dari awal ketika ingin menerapkan teknologi baru karena sudah dilakukan sebelumnya oleh vendor. Hal ini dapat menghemat budget dalam pembuatan sistem. Selain itu dengan metode outsourcing ini perusahaan bisa lebih fokus kepada masalah core perusahaan. Namun hal yang paling penting sebelum menerapkan metode ini yaitu membuat sebuah perjanjian kerjasama antara vendor dan perusahaan untuk menjamin kualitas dan keefektifan.

PDF File : ASMIRA TGS SIM BLOG OUTSOURCING